Posted on

Rumah Surga Bagi Mereka Yang Membutuhkan

“Itu Kak, aku kan mau bikin rumah pintar dan rumah sehat. Rencananya besok aku ingin cari donatur. Karena fokus ku ingin semua anak di Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai. Tadinya aku mau ajak Ditto untuk ikut promosikan, lumayan kan dipromosikan artis hehe” Jawab Yoya

“Wah ribet dong Ya kalau kamu cari donatur kayak gitu. Kamu kan sibuk, emang kamu ada waktunya?” tanya Kale.

“Tenang Kak, kan aku pake sistem blockchain pada Pureheart yang memudahkan setiap penggunanya” Jawab Yoya.

PureHeart salah satu aplikasi berbasis blockchain yang memudahkan perusahaan dalam membantu anak-anak Indonesia untuk menjadi penerus bangsa yang membanggakan dengan bantuan pendidikan dan lainnya yang dapat memberikan manfaat bagi perkembangan mereka. Banyak anak-anak Indonesia yang masih sulit mendapatkan bantuan dana dan pendidikan yang merata akibat sulitnya akses. PureHeart dengan sistem blockchain yang memiliki sistem transparansi terpercaya dan traceability yang tinggi sehingga perusahaan sebagai donatur tidak lagi perlu khawatir dengan laporan dana yang dapat terjangkau secara real time dan aman. Bantu anak-anak Indonesia lebih mudah mendapatkan pendidikan yang merata. Klik link berikut untuk informasi selengkapnya www.pureheart.ledgernow.com

“Bisa sih Ya, nanti aku bantu sumbang yaa. Nanti aku promosikan lewat media sosial aku juga ya. Biar banyak orang-orang yang memiliki dana berlebih bisa nyumbangi ke project yang ingin kamu buat”. Kata Ditto

“Makasih ya To”. Jawan Yoya dengan senyum.

Ditto senang bisa ikut membantu Yoya mewujudkan cita-cita membangun rumah pintar dan rumah sehat. Ditto sadar, bahwa pendidikan sangat penting untuk penerus bangsa agar melahirkan penerus cerdas, kreatif dan bisa berinovasi. Dampak yang Yoya rasakan sangat besar ketika Ditto membantu menyebarkan lewat media sosial. Jika dilihat dari jumlah angka followers Ditto yang banyak maka tak heran jika banyak sumbangan yang mengalir kepada project yang ingin Yoya lakukan. Seminggu rehat dari dunia musik, kondisi Ditto semakin membaik. Ditto perlahan mencoba mengurangi rokok, rajin berolahraga dan meminum air putih. Yoya setia mendampingi Ditto untuk selalu menjaga kesehatan Ditto. Makanan Ditto juga selalu terjaga, mulai minggu lalu Ditto berlangganan catering makanan sehat dan makanan untuk darah rendah. 

Namun ditengah waktu istirahatnya untuk persiapan besok manggung di salah satu mall di Jakarta, Ditto mendapatkan pesan di HPnya. Ia kaget membaca isi pesan dari produser musik yang menyatakan bahwa  Ditto membatalkan konser manggung secara sepihak dan tidak mengembalikan dana yang sudah dibayarkan. Padahal urusan seperti ini, bukan Ditto yang mengatur, melainkan Kale, sang manajer dan asisten pribadi Ditto. Selama seminggu beristirahat, Kale memutuskan untuk beristirahat juga dengan pergi berlibur ke Negara Amerika. Ditto dan Kale benar-benar memanfaatkan waktu istirahatnya dan sampai tidak berkabar satu sama lain. Namun betapa terkejutnya Ditto mendengar pesan dari salah satu produser televisi yang protes karena uang pembatalan manggungnya tidak dikembalikan. Ditto membalas pesan tersebut untuk dengan meminta produser televisi menghubungi Kale sang manager. Tak lama setelah pesan WhatsApp dibalaskan Ditto, produser televisi membalas lagi jika ia sudah menghubungi Kale namun tidak ada jawaban. Ditto mencoba merekap hasil pemasukan yang selama ini ia dapatkan dan melihat jadwal manggung selama 3 bulan kedepan. Dalam merekap hasil pemasukan selama ini membutuhkan waktu dan data-data yang cukup banyak. Terkejut ketika Ditto melihat, ada jadwal manggung dan syuting iklan bentrok secara bersamaan. Rasa marah dan kesal Ditto rasakan. Ditto langsung menghubungi Kale melalui telepon dan…..

Kira-kira apa yang sedang terjadi? Penasaran bagaimana kelanjutan kisahnya, klik disini.

 

Episode 1 | Episode 2 | —- to be continue

Posted on

Anak Desa Boleh Bermimpi dan Sukses -1-

Pagi ini aku melihat bentangan langit biru yang bersih, aku melihat banyak turis asing yang sedang berjemur di bawah cahaya matahari pagi. Aku berfikir kenapa turis-turis ini mengunjungi kampung ku, apa pekerjaan mereka di negaranya, aku duduk di atas pasir putih sambil menatap laut biru. Di tepi pantai banyak anak-anak berambut pirang berkulit putih sedang bermain istana pasir dengan tertawa gembira. Lanjut di samping aku melihat anak-anak kampungku sedang mengutip botol kaleng di tepi pantai. Itu juga yang aku lakukan ketika masih kecil, aku membantu ibu mencari botol bekas untuk di jual. Aku sering membaca buku di perpustakaan desa, salah satu buku yang ku baca mengatakan bahwa jika ingin kaya kamu harus kerja keras, karena usaha tidak menghianati hasil. 

Namun, aku tidak percaya dengan kata-kata itu, karena kami disini sudah sangat bekerja keras, dan tidak pernah malas. Namun kemiskinan makin parah setiap tahunnya. Aku belum pernah melihat daerah lain selain kampungku dan kampung sebelah, bahkan aku hanya pernah melihat pulau Jawa melalui tv di rumah kepala desa, aku tak percaya bahwa itu benar-benar Indonesia. Sungguh indahnya, jalanan penuh dengan aspal hitam yang mulus, di kampungku hanya ada beberapa jalan saja yang baru diaspal dan menjadi lokasi bermain anak-anak desa.

Rumah kami dikelilingi oleh pohon-pohon yang terlebih terlihat seperti hutan bagi kami. Rumah panggung sederhana yang cukup untuk melindungi kami dari panas dan hujan. Dulunya jika menjelang malam hari kami hanya menggunakan lilin yang cukup menerangi waktu makan dan belajar anak-anak desa. Namun kini kita mendapatkan bantuan peminjaman dana untuk memasang panel surya di beberapa tempat. Cukup untuk menerangi gelapnya malam diantara pohon-pohon besar yang cukup seram. Untunglah kami dikenalkan dengan teknologi REEF yang membantu keluarga-keluarga didesa kami. 

Masyarakat di desaku banyak yang berprofesi sebagai nelayan ataupun buruh. Kami hidup dari bekal  kerja keras dengan memanfaatkan sumber daya alam Indonesia yang kaya raya. Selain sulitnya pekerjaan selain menjadi buruh, pendidikan di desaku ini juga masih sulit dijangkau. Banyak yang harus putus sekolah karena tidak mampu, dan pendidikan yang masih sangat minim sistemnya.  

Beruntungnya aku bisa lulus sekolah menengah atas. Aku cukup rajin belajar di sekolah, beberapa kali aku mendapatkan rangking pertama di sekolah. Semangatku ingin menjadi orang sukses yang dapat membantu perekonomian di desa ku ini. Mimpiku cukup tinggi, namun akan aku gapai sedikit demi sedikit meskipun berasal dari keluarga miskin.

Banyak anak-anak di kampungku tidak melanjutkan sekolah karena harus membantu orang tua mereka bekerja, meskipun keadaan ekonomi yang sulit di desaku, namun warga desa kami sangat menikmati kehidupan mereka, anak-anak yang bermain di sore hari bersama teman-temannya, dan ibu-bu desa yang berkumpul kadang sambil membuat kerajinan traditional. Oleh karena itu karena warga yang kompak satu sama lain, desaku ini menjadi aman dari tindakan kriminal. Meskipun begitu para pekerja di desa tidak mendapatkan upah yang sesuai dengan kebutuhan pokok yang semakin mahal, harus hidup dengan serba kehematan dan seadanya akibat upah yang minimal. Belum lagi akses pendidikan yang terbatas, rumah sakit terbatas, infrastruktur terbatas, semua dengan keterbatasan. Bayangkan saja gaji guru honorer di kampungku cuma 500 ribu, dan di bayar 3 bulan 1 kali, apakah itu wajar? Sangat tidak wajar. Bagaimana guru-guru bisa bertahan hidup dengan keadaan seperti itu. Tapi disini sudah sangat wajar seperti itu banyak warga kampung kami yang menjadi TKI di negara orang karena tidak sanggup melihat keadaan yang sangat miskin, bukan kami tidak mau bekerja tetapi memang pekerjaan yang tidak ada. 

Belum lagi jika musim kemarau, air bersih sangat sulit ditemukan, anak-anak sebelum pergi sekolah mereka harus mendaki bukit dulu untuk mengambil air untuk dikonsumsi sehari-hari. Sedih rasanya di tempat banyak turis datang dengan gembira dibalik itu banyak masyarakat sekitar yang menderita akibat kemiskinan. Aku 3 bersaudara, 2 orang saudara ku sedang pergi merantau ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Temanku yang menjadi TKI di Jepang juga mengajak aku untuk ikut bersamanya mencari rezeki yang lebih layak, karena aku harus membantu ibu yang sedang sakit. Bapaku masih bekerja menjadi petani ubi, hanya ubi yang bisa ditanam dan tidak mengeluarkan uang yang banyak. setelah ubi di panen ubi itu akan di oleh menjadi tepung lalu akan di jual. Mata pencaharian masyarakat disini rata-rata menjadi buruh nelayan dan menjadi petani ubi. 

Namun nasib baik akan selalu datang diwaktu yang tepat, doa-doaku selama ini akhirnya dipanjatkan oleh Tuhan, Sardo teman baikku sejak dulu menjadi jawaban atas doa-doaku… 

 

Episode 2…

Posted on

Berbagi Kebaikan Untuk Nelayan Miskin

Pak Amir sontak terkejut ketika pulang kerumah sehabis mencari peralatan menangkap ikan di kota sebelah, ia melihat putrinya yang terbaring diatas kasur yang kusam itu merintih kesakitan, badan putrinya lemas, suhu badan meningkat serta keringat yang bercucuran “kamu kenapa nak? kenapa badan kamu panas seperti ini? bu, ini putri kenapa bu? sakit apa putri sampai seperti ini? tanya Amir dengan nada yang sangat khawatir.

Dengan berlinang air mata, istri pak Amir pun menjawab “aku ga tau pak, tapi kata tetangga sih ini seperti penyakit demam berdarah”, sahut bu Imas sambil menangis.

Ketika pak Amir sedang memeriksa tubuh putrinya, datang seorang tetangga bernama Pak Muhidin, pak Muhidin kaget melihat pak Amir dan istrinya sedang menangis tersedu-sedu, lalu ia pun masuk dan menanyakan hal yang sedang terjadi “Loh mir, ada apa? kok nangis gitu? itu putri sakit? ayo bawa ke rumah sakit sekarang”, ujar Pak Muhidin dengan tergesa-gesa membantu pak Amir menggendong putri tercintanya.

Saat itu hari sudah mulai sore, matahari yang sebentar lagi akan terbenam, pak Muhidin bergegas mengeluarkan motor nya dari garasi samping dan langsung mencoba untuk menyalakan motor tersebut. Tetapi motor pak Muhidin tak kunjung menyala, dikarenakan kondisi motor yang sepertinya rusak. Alhasil, pak Muhidin meminjam motor tetangga samping rumahnya, untungnya tetangga tersebut berbaik hati meminjamkan.

Perjalanan dari rumah pak Amir ke rumah sakit sekitar 10 kilometer, perjalanan yang panjang itu membuat pak Amir dan pak Muhidin meningkatkan kecepatan laju nya agar mereka bisa cepat sampai ke rumah sakit. Tetapi di suatu jalan yang ia lewati, terdapat sebuah kecelakaan, ada mobil truk yang pecah ban di tengah jalan, mengakibatkan jalan tersebut tidak dapat dilalui dan harus mengambil jalan memutar, jalan memutar itu lumayan jauh, harus ditempuh dengan tambahan jarak 5 kilometer. Dengan hati gundah pak Amir berdoa dalam hatinya “ya allah, bantulah kami, permudahlah jalan kami menuju rumah sakit, agar anak saya bisa dapat segera diberikan perawatan”.

Ditengah perjalanan untungnya pak Muhidin menemukan jalan singkat yang bisa membawa mereka lebih cepat ke rumah sakit. Pak Muhidin pun langsung berbelok ke jalan tersebut. Sesampainya di rumah sakit, pak Amir dan pak Muhidin membawa putri ke ruangan ICU tepat didepan pintu masuk rumah sakit, disana putri langsung mendapatkan pertolongan pertama oleh perawat-perawat yang sigap dan cekatan. Ketika putri sedang diperiksa di ruangan ICU, pak Amir dan pak Muhidin didatangi oleh seorang suster untuk diarahkan ke ruang administrasi “Permisi pak, anak bapak sudah kami bantu lakukan pertolongan pertama, untuk biaya administrasinya tolong segera dibayar ya, bapak bisa langsung ke ruangan administrasi yang ada di lorong sebelah kanan”. ujar sang perawat tersebut.

Pak Amir termenung, berfikir bagaimana caranya membayar semua pengobatan anak bontotnya itu, karena ia yakin biaya yang harus dia bayar tidak sedikit. Sambil termenung, pak Amir berdiri dan mulai menuju lorong yang ada di ujung, sebelumnya ia menitipkan satu pesan kepada pak Muhidin “Din, saya titip putri ya, kamu tolong tungguin putri disini, saya mau ke ruang administrasi dulu”.

Lorong terasa panjang, langkah kaki pak Amir terasa sangat berat, karena ia berpikir darimana ia bisa membayar semua pengobatan putri tercintanya itu, ia memang memiliki sisa uang dari pinjaman yang didapatkan untuk membeli peralatan menangkap ikan, tetapi jika ia memakai uang tersebut, bagaimana ia bisa membeli peralatan lainnya untuk menangkap ikan di laut. Sesudahnya ia sampai di ruangan administrasi, ia bertanya kepada pelayan disana mengenai pembayaran perawatan putrinya, “permisi bu, saya Amir ayahnya Putri yang sedang dirawat di ruang ICU, untuk pembayarannya kira-kira berapa ya total semuanya?” tanya Pak Amir kepada suster tersebut.

Betapa terkejutnya pak Amir ketika mengetahui bahwa uang yang harus disiapkan tidaklah sedikit, ia harus membayar minimal sebesar 2 juta untuk perawatan anak nya di rumah sakit tersebut hingga sembuh dan diperbolehkan pulang. “bu, apa tidak salah? saya tidak punya uang sebanyak itu, apa tidak ada keringanan?” tanya Pak Amir kepada pelayan administrasi.

Dengan tegas, perawat tersebut berkata bahwa nominal yang harus dikeluarkan Pak Amir telah sesuai dengan prosedur administrasi rumah sakit, tetapi pak Amir terus meminta kelonggaran agar biaya pengobatan anaknya bisa dikurangi. Karena itu merupakan prosedur mutlak dari rumah sakit, suster tersebut tidak bisa mengurangi uang yang harus pak Amir bayar. Tetapi beruntungnya pak Amir, suster tersebut memberikan informasi bahwa sedang ada bantuan pembayaran untuk warga kurang mampu yang diselenggarakan oleh Pureheart, pak Amir langsung bahagia, apakah ia bisa mendapatkan kesempatan itu, kemudian ia bertanya lebih jelas kepada suster tersebut “bu, benarkah itu? bagaimana saya bisa mendapatkan bantuan dari pureheart itu? apa yang harus saya lakukan?” tanya Amir dengan nada bahagia sambil meneteskan air matanya, berharap itu merupakan anugerah untuk ia dan putrinya.

Dengan seksama pak Amir mendengarkan penjelasan dari suster dan mencatat segala informasi yang didapatkan, agar ia bisa lolos seleksi sebagai penerima bantuan dari Pureheart. Tidak lama kemudian, pak Amir tergesa-gesa mendatangi lokasi yang ditunjukkan oleh suster dan mencoba untuk mendaftarkan dirinya sebagai calon penerima bantuan dari Pureheart, beruntungnya pak Amir bisa lolos seleksi dan bisa mendapatkan bantuan yang sangat berarti untuk ia dan putrinya, betapa bahagianya pak Amir dan Istrinya mendengar jika putrinya bisa dirawat dirumah sakit tanpa harus memikirkan bagaimana cara membayar biaya pengobatan yang mahal itu.

Beberapa hari berlalu, putri pak Amir telah dinyatakan sehat oleh dokter dan sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, tetapi dokter memberikan syarat, yaitu putri harus tetap menjalani check up ke rumah sakit selama beberapa bulan kedepan. Bagaimana kisah selanjutnya mengenai Pak Amir serta Putrinya? yuk baca kisah selengkapnya di link berikut https://www.aell.co/

Posted on

Pelecehan Seksual Pada Anak Sering Terjadi, Kenapa Bisa?

Pelecehan seksual merupakan tindakan-tindakan yang tidak diinginkan dan mengacu pada perbuatan seksual. Bukan hanya menyentuh, bahkan menatap dengan penuh nafsu atau menampilkan bahan pornografi sudah dapat dikategorikan dalam tindakan ini. Apabila dibiarkan secara terus-menerus, pelecehan seksual ini beresiko besar untuk menjadi kekerasan seksual. Pelecehan seksual seakan tidak pernah hilang kasusnya di Indonesia. Rata-rata korban pelecehan seksual hanya bisa terdiam atau menghindar sebisa mungkin. Mirisnya, para pelaku pelecehan berasal dari keluarga atau kerabat dekat dan korban masih dibawah umur dan masih berstatus sebagai pelajar. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2015 menunjukkan, dari 1.726 kasus pelecehan seksual yang terjadi, sekitar 58 persennya dialami anak-anak.

Rina yang namanya disamarkan, berstatus sebagai pelajar berusia 13 tahun pernah menjadi korban pelecehan seksual di lingkungan keluarganya. Dia dilecehkan oleh Kakak kandung laki-laki yang biasa dipanggil Abang. Begitu dekat lingkup korban dengan pelaku. Setelah mendapatkan perlakukan tidak pantas yang dilakukan Abangnya, Rina menjadi anak yang pemurung. Dia tidak suka bertemu orang banyak dan menjadi pendiam. Padahal Rina dikenal sebagai anak yang aktif, dan memiliki banyak teman disekolah maupun dirumah. Sejak kejadian itu, Rina berubah 180 derajat. Rina tidak berani untuk bercerita kepada kedua orang tuanya. Pendidikan Rina jelas terganggu. Nilai yang turun drastis, mengharuskan Rina untuk tinggal kelas. Tidak ada semangat lagi didalam diri Rina. Rina memutuskan untuk berhenti sekolah, selain karena semangat belajarnya menurun orang tua Rina tidak memiliki biaya lagi untuk membayar biaya sekolah Rina. Seharusnya orang tua menjadi peran penting dalam tumbuh kembang anak. 

Orang tua Rina adalah pekerja yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan pulang hampir setiap hari larut malam. Keadaan ekonomi yang memprihatinkan yang menyebabkan orang tua Rina harus kerja banting tulang, tak kenal pagi dan malam agar kebutuhan anak terpenuhi. Ayah Rina bekerja sebagai pemulung, dan Ibu Rina sebagai Asisten Rumah Tangga. Namun tak ada pengawasan dalam lingkungan keluarganya, yang menyebabkan hancurnya masa depan anak. Itulah yang menyebabkan kelakuan becat Abang terjadi, karena kurangnya pengawasan serta edukasi seks di keluarga. Padahal banyak potensi yang ada didalam diri Rina. Memang untuk biaya sekolah sudah ditanggung oleh Pemerintah, tapi untuk biaya buku dan seragam itu kewajiban yang harus dipenuhi dengan biaya sendiri. Semenjak putus sekolah 1 tahun lalu karena kasus pelecehan yang terjadi pada dirinya, Rina akhirnya berani bercerita ke orang tuanya mengenai yang sudah terjadi padanya. Orang tua Rina hanya bisa bersedih dan meminta Rina untuk memaafkan abangnya. Lingkungan pergaulan yang tidak mendukung yang menyebabkan perilaku abang buruk. Rina juga ingin melanjutkan pendidikannya. Kurangnya pendidikan pada orang tua Rina, yang menyebabkan pergaulan Abang menjadi tidak terkendali.  Pendidikan memang menjadi landasan penting agar kita bisa melahirkan generasi berkualitas.

Keinginan Rina disambut baik oleh kedua orang tuanya. Namun karena terhambat dan Rina hanya bisa berdoa dan berjuang agar bisa kembali bersekolah. Doa Rina akhirnya terwujud. Rina bisa bersekolah kembali dengan bantuan aplikasi Pure Heart. Bukan hanya Rina saja, tapi teman-teman dekat lingkungan Rina yang putus sekolah juga bisa melanjutkan sekolahnya dengan bantuan Pureheart. Rina juga dibimbing mental dan psikologisnya agar tidak mengalami trauma berlebih. Bimbingan dari para psikolog sangat membantu untuk mengembalikan keceriaan dan keaktifan Rina dalam bersosialisasi. Abang juga bisa melanjutkan pendidikannya dan diberi arahan mengenai pengetahuan seksual. Mengingat usia Abang yang tak jauh dari usia Rina yang masih membutuhkan pendidikan. Perlu dipahami, menikah dan memiliki anak bukan hanya siap dari segi keuangan atau segi usia, namun siap mengajarkan dan membimbing mereka agar tumbuh menjadi generasi yang berkualitas. 

PureHeart salah satu aplikasi berbasis blockchain yang memudahkan perusahaan dalam membantu anak-anak Indonesia untuk menjadi penerus bangsa yang membanggakan dengan bantuan pendidikan dan lainnya yang dapat memberikan manfaat bagi perkembangan mereka. Banyak anak-anak Indonesia yang masih sulit mendapatkan bantuan dana dan pendidikan yang merata akibat sulitnya akses. PureHeart dengan sistem blockchain yang memiliki sistem transparansi terpercaya dan traceability yang tinggi sehingga perusahaan sebagai donatur tidak lagi perlu khawatir dengan laporan dana yang dapat terjangkau secara real time dan aman. Bantu anak-anak Indonesia lebih mudah mendapatkan pendidikan yang merata. Klik link berikut untuk informasi selengkapnya www.pureheart.ledgernow.com

Posted on

Penjual Ayam Goreng yang Rajin untuk Berbagi Kebaikan

Ahmad adalah seorang penjual ayam goreng di daerah Jakarta. Meski hidup pas-pasan, Ahmad secara rutin berdonasi membantu orang-orang yang membutuhkan. Ahmad saat ini membuka usaha warung makan ayam goreng di daerah Jakarta Utara. Berawal dari tugas cuci piring dan bersih-bersih, Ahmad memberanikan diri untuk memulai usaha ayam goreng sendiri. Ahmad berasal dari daerah Jawa Tengah. Karena dorongan dari teman-temannya, Ahmad akhirnya memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta. Di awal tahun 2010, Ahmad memulai bekerja di restoran. Karena tidak memiliki latar belakang memasak atau kuliner, Ahmad sempat ragu untuk ikut temannya bekerja di restoran karena dipikirannya saat itu tidak ada salahnya untuk mencoba.

Orang-orang yang belum memiliki pengalaman di bidang kuliner seperti Ahmad biasanya akan ditempatkan di bagian dapur. Ahmad pertama kali ditugaskan untuk bersih-bersih dapur dan mencuci piring. Selama bekerja di bagian dapur, Ahmad sesekali melihat bagaimana proses koki masak dan menyiapkan makanan. Dengan kata lain, Ahmad belajar memasak secara otodidak. Setelah 3 tahun bekerja di dapur, Ahmad mendapatkan training atau pelatihan untuk belajar memasak.

Meskipun bukan restoran yang besar, tempat kerja Ahmad memberikan pelajaran masak untuk dia dan teman-temannya. Dari situlah Ahmad semakin tertarik dengan keterampilan memasak. Awalnya hanya coba-coba, Ahmad justru ingin melanjutkan profesinya menjadi juru masak. Ahmad sempat berpindah dari satu restoran ke restoran lain. Ia pernah bekerja di restoran seafood selama 5 tahun dan bekerja di rumah makan bebek goreng sekitar 2 tahun. Ia juga pernah bekerja selama  2 tahun di warung makan ayam goreng. Karena ada suatu kendala, pemilik rumah makan ini tidak bisa meneruskan usahanya. Melihat peluang tersebut, Ahmad akhirnya memutuskan untuk melanjutkan usaha tersebut. Ahmad memulai usahanya menjadi penjual ayam goreng.

Berbagai cobaan dan masalah pasti ditemukan Ahmad saat berjualan ayam goreng. Ia bercerita bahwa ada saja orang yang tidak membayar pesanannya setelah makan. Namun, Ahmad berpikiran positif jika orang itu benar-benar lupa. Tak sedikit juga orang-orang yang lupa untuk membayar, keesokannya kembali untuk membayarkan makanannya. Ahmad selalu sabar dan tidak pernah mengeluh. Bagi Ahmad, rezeki sudah ada yang mengatur.

Meskipun hidup dengan pendapatan yang pas-pasan, Ahmad tidak pernah lupa untuk membagikan rezeki yang ia punya. Setiap harinya, Ahmad rajin berdonasi untuk bantu orang-orang yang sakit atau pembangunan masjid. Di tengah kesibukan berjualan, ia bisa dengan mudah membantu orang lain dengan cepat. Meskipun sedikit demi sedikit, Ahmad percaya bahwa bantuan yang ia berikan akan bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan.

Ahmad tidak pernah takut kekurangan karena telah berdonasi. Menurut Ahmad banyak orang yang ingin berbagi tetapi selalu mengulur-ulur waktu. Jika ia menunggu sampai rezekinya berlebih, ia tidak akan pernah mulai untuk berdonasi.

“Kalau mau berbagi nunggu sampe rezeki berlebih kayaknya susah, soalnya kita kan gak pernah tau umur kita sampai kapan.” ujar Ahmad

Berbagi itu dapat menguntungkan berbagai piha, banyak orang yang terbantu dengan pemberian kita yang seadanya, dengan begitu PureHeart membantu orang-orang berbaik hati yang ingin mendonasikan penghasilannya untuk kebaikan anak-anak Indonesia dengan hal yang lebih bermanfaat dan berguna. Untuk itu PureHeart dengan sistem aplikasi blockchain yang membantu donatur mudah dalam mengetahui proses pengelolaan dana bantuan kepada anak-anak yang membutuhkan dengan sistem tracking yang realtime. Tidak perlu lagi takutnya dana yang disalah gunakan pihak tidak bertanggung jawab.  Yuk lihat info selengkapnya mengenai PureHeart disini https://pureheart.ledgernow.com/